Life Like Allah wants

Life Like Allah wants

Rabu, 28 Desember 2016

Galau Akhir Tahun

Hari ini ada sesuatu yang ingin gue sampaikan pada seseorang yang nantinya akan menjadi pendamping hidup gue. Siapa ya? Gue juga gak tau,serius.... masih di-keep sama Allah. Tapi gue gak tahan pengen banget nulis ini...

Gue menulis ini diiringi lagu We've Only Just Begun yang dinyanyikan oleh The Carpenters. Suara Karen, vokalis perempuan favorit gue sepanjang masa yang harus meninggal karena bulimia menemani kegelisahan alam pikiran gue.

"We've Only Just Begun"

We've only just begun to live
White lace and promises
A kiss for luck and we're on our way
We've only begun

Before the rising sun we fly
So many roads to choose
We start out walking and learn to run
And yes, we've just begun

Sharing horizons that are new to us
Watching the signs along the way
Talking it over just the two of us
Working together day to day
Together

And when the evening comes we smile
So much of life ahead
We'll find a place where there's room to grow
And yes, We've just begun


Kayaknya ekspresi pertama gue pas tau siapa pasangan hidup gue adalah nangis deh. Gue pasti nangis kejer sambil ingus meler, mata sembab,  kalo bisa sambil ngelempar sesuatu gitu, ya apalah bantal atau boneka atau apa gitu yang yang gak bikin sakit tapi cukup buat mengejutkan dia. Terus gue teriakan; "Kemana aja loooo?"

Tapi kalo kakek-kakek jodoh gue sih ya apa mau dikata, masa iya gue lempar-lempar bisa tewas langsung!

Gue pengen bilang ke lo yang bahkan gue gak tau namanya, kenapa sih lo tuh lama jemput gue? kenapaa why???
Minder? Gara-gara gue S2? Emang siapa yang ngeliat orang dari strata pendidikan formalnya sih? Kesel banget gue diminta nahan-nahan diri jangan terlalu pintar jadi cewek, ntar gak ada yang mau. Jangan langsung S3, pasti susah nikahnya.

Pertama, emang lo mau punya ibu dari anak-anak lo yang bego? Gak mau kaaan?
Semua ini gue siapin bukan buat ngejatohin lo sebagai kepala keluarga yang pasti akan gue taati, ini semua buat anak-anak kita juga nanti.

Kedua, emangnya gampang lo pikir menjaga hati dari godaan-godaan duniawi berbentuk mas-mas mapan bersahaja di luar sana? Well abaikan kata mapan, mapan secara pemikiran maksud gue, #ngeles

 Terus emang lo pikir gak ada yang deketin gue apaaah? Banyaaak! But gue kesel banget kalo tau hati gue menjawab dengan lantangnya "Bukan yang ini yang lo tunggu Lin"
Itu lo yang ngirim bisikan-bisikan gaib gitu ya? Pake provider apaan sih? Ganggu banget!
Pokoknya nanti pas kita ketemu gue mau ngasih list semua pria-pria yang pernah mengisi hati gue, Termasuk di dalamnya Abraham Lincoln dan Mahatma Gandhi. Biar lo kesel!
Terus habis itu gue dibales ya, dibandingin jauh sama Aura Kasih?
mending gue tereak-tereak di pinggir jalan, nunggu bis sambil teriak "OM TELOLET OM!!!"


Gue yang naif dan tak berpengalaman ini cuma pengen menyiapkan yang terbaik buat lo, buat generasi kita selanjutnya, semua dalam lingkup kesadaran gue bahwa gue adalah hamba Allah dalam wujud perempuan yang kodratnya akan melahirkan dan menjadi ibu.

Tapi lo nya lama...

picture taken from; https://hersocialhighness.files.wordpress.com/2015/03/lonely-woman.jpg
Ah yaudah deh, abaikan. Mungkin memang belum saatnya. Mungkin gue masih harus berkutat lagi dengan isu-isu sosial, politik, lingkungan di Indonesia dan di dunia. Sendirian.

Oke gue bakal sabar menanti disini, tapi awas kalo lo leha-leha, nihil persiapan buat sesuatu yang super besar menanti di depan kita.
Awas kalo lo cuma ngabisin waktu lo buat main games COC atau jadi suporter bola yang siap mati di tiap pertandingan, awas kalo lo cuma mikir berapa pundi-pundi emas yang udah lo kumpulin dari pagi sampai malem. Emang lo pikir gue makan duit?



Dari yang menantimu,

Bandung, dipenghujung 2016

Senin, 28 November 2016

Berguna atau Dimanfaatkan???

Beberapa hari silam gue menemukan satu lagi hikmah kehidupan yang gue pikir mahal harganya. Makanya gue excited banget buat nulis dan share. Ceritanya gue diminta tolong oleh seorang dosen kenalan di sebuah Universitas X. Beliau berencana membuat buku dan tersebutlah gue yang dia percaya untuk membantunya mengerjakan beberapa soal latihan di buku literatur dari barat sana. Intinya gue diminta memecahkan beberapa soal dan mungkin nanti beliau tinggal modifikasi angka-angkanya. Karena gue pikir ini suatu hal yang ‘tidak ada salahnya’ akhirnya gue menyanggupi lah permintaan beliau. Singkat kata otak gue nyaris meledak baca soal-soalnya yang super njelimet itu. Akhirnya gue menuju perpustakaan dimana banyak kawan-kawan gue yang mungkin bisa memberi ilham. Saat gue lagi kebingungan beberapa nyeletuk

Si A: “Mau aja lo Lin, disuruh-suruh gitu. Dapet duit emang?”

Gue: “Enggak sih”

Si B: “Yaelaaah ini mah namanya lo dimanfaatin! Coba bayangin jasa translator itu mahal banget loh, ini lo udah disuruh translate soalnya juga nyari jawabannya lagi”.

Si A: “Udah ah cabut yak, gue sama B mau ke mall nih ada diskon menuju akhir tahun, ikutan gak?”
Gue: “Bunuh guuue bunuuuh!”

Seketika bulu ketek gue kebakar, saking marahnya. (najis enggaklah)

Ditambah pada hari itu jam menunjukkan waktunya gue untuk rapat rutin. Gue udah janji gitu ceritanya buat dateng rapat. Ternyata dosen itu bilang “Kalau bisa diselesaikan dulu ya, saya butuh hari ini”. Semakin terpuruklah gue dalam lubang buaya, mending ke dalam hati buaya darat! #ehapasih

Yah pada saat itu intinya mendadak gue bete super dahsyat, mencoba berpikir salah apa gue sehingga layak dimanfaatkan oleh orang-orang yang gue kasihi (kebanyakan nonton sinetron). Serius tapi saking keselnya gue nangis aja gitu. Sebenernya lebih antara gak tau harus gimana. Kebiasaan gue emang nangis pas gak tau jawabannya, macem anak SD yang nangis kalo gak bisa ngerjain soal ujian.

Saat di titik itulah gue secara iseng ngambil buku motivasi di kamar kos gue. Kebetulan emang gue suka koleksi buku-buku motivasi. Walaupun semua orang punya motto hidup “Hidup tak seindah kata-kata Mario Teguh” gue tetep menjadi orang yang bisa berbinar-binar antusias dengerin kata-kata motivasi, serius lo gak usah repot-repot ceritain kasus Kiswinar, gue #teammarioteguh (cinta buta red.). Bahkan dalam momen apapun kalau ada kata yang tiba-tiba bikin gue termotivasi gue bisa banget tepuk tangan sendiri di forum. Misalnya dalam sebuah seminar tesis, kakak tingkat lagi maparin background penelitian dia

Kakak tingkat: “Seperti kita ketahui, Indonesia memiliki masalah di bidang air bersih, banyak daerah-daerah kekeringan bukan karena kurang air namun karena tidak ada air yang layak untuk digunakan, untuk itulah penelitian ini dimaksudkan menjadi jalan keluar bagi masalah tersebut. Karena air adalah hajat bagi semua manusia maka saya sangat optimis penelitian ini dapat diaplikasikan”

Gue: “Uwooooww cool” (tepuk tangan pelan-pelan)

Terus habis itu semua pada nyingkir dari sebelah gue macem gue pengidap antrax alias sapi gila. Kata temen-temen gue sih kelakuan macem gitu adalah definisi ‘Alay’.

Alay anak layangan, nongkrong pinggir jalan sama teman-teman
Biar keliahatan anak pergaulan, yang doyan kelayapan
Anak layangan- Lolita (Dangdut koplo dalam sebuah bis bogor-bandung, yang gak tau bisa search di youtube. Gue sih udah ngapalin liriknya, selain lirik Lelaki Kardus)

Back ya ulah garelo pisan, ini tuh tulisan serius tau ah elah, heran gue…

Nah sesampainya di kosan, sebelum melanjutkan pekerjaan tersebut gue memutuskan baca buku motivasi, satu bab aja dapat menyembuhkan pikiran negatif gue. Entah kenapa secara kebetulan gue ambil buku Rise above the Crowd yang ditulis oleh Indrawan Nugroho. Tepat di bab Kekuatan Purpose. Kekuatan Tujuan. Redaksinya seperti berikut:

Purpose tidak bisa disamakan dengan tujuan spesifik atau strategi dari sebuah bisnis. Purpose bertahan setidaknya selama seratus tahun. Sementara itu strategi berubah berkali-kali dalam serratus tahun. Anda bisa saja mencapai sebuah target namun belum tentu memenuhi sebuah purpose yang seperti bintang pemandu di ujung cakrawala-selamanya dikejar namun tidak akan pernah sampai. Purpose tidak pernah berubah, namun menginspirasi munculnya perubahan”

Steve Jobs, mendeklarasikan purpose Apple: “To make a contribution to the world by making tools for the mind that advance humankind”

Disney dengan Disneylandnya: “To create happiness to the others”

(udah pada mau tepuk tangan beloooom sih bacanya? Lanjut yak)

Apa yang Anda perjuangkan? Jangan terburu-buru menjawabnya. Renungkan terlebih dahulu. Gali dan temukan jawaban yang paling dalam.

Ketika Anda merumuskan purpose, pastikan bahwa sesuatu yang Anda perjuangkan bukan kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan orang lain. Hasil riset menunjukkan, mereka yang meyakini bahwa pekerjaannya bisa memberikan manfaat bagi orang lain, tidak mudah lelah maupun kecewa, dibandingkan mereka yang bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

“PURPOSE ANDA MERUPAKAN SESUATU YANG MULIA DAN MERUPAKAN JALAN BAGI ANDA UNTUK BISA MEMBERIKAN KONTRIBUSI PADA ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA”

gambar diambil dari https://media.licdn.com

Sampai sini gue berdiri sendiri di kamar kosan, terus tepuk tangan serentak. Untung gue gak tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit jiwa terdekat.


Gue baru sadar bahwa kita harus benar-benar berhati-hati dengan apa tujuan hidup kita. Karena itu yang menentukan seluruuuuh aktivitas dalam hidup kita. Orang yang punya tujuan hidup uang, tentunya ia akan kerahkan segala daia, rinso dan so kiln (Lin… lin… ini dibaca orang lho, inget!). Ulangi ya…

Orang yang punya tujuan hidup uang, tentunya ia akan kerahkan segala daya, upaya dan kemampuannya untuk mengumpulkan uang. Maka orientasinya adalah materi. Pantang melakukan apapun jika tidak diganjar materi, Hidupnya akan terkungkung dalam perasaan kekurangan dan matilah ia oleh ketamakannya. Sedangkan orang yang punya tujuan berkontribusi untuk dunia yang lebih baik mungkin saja justru nombok alias berkorban dan jatuh miskin, namun ia pastilah bahagia dan berkecukupan. Dan yang terpenting tentulah ia memberikan perubahan sekecil apapun itu.

Kemudian yang penting berikutnya adalah memelihara tujuan hidup kita. Menjaga tujuan hidup kita mungkin sama sulitnya dengan menemukan tujuan hidup kita. Apalagi tujuan hidup itu nyambernya (nyamber, bahasa macem apa sih Lin) ke believe. Sesuatu yang kita yakini tapi mungkin tidak terlihat oleh orang lain. Walhasil siap-siaplah kita dijuluki orang gila.

Tentunya sebagai manusia yang memilih Islam sebagai jalan hidupnya, gue meyakini bahwa satu-satunya alasan gue diciptakan adalah untuk mengabdi kepada Allah. Dan bentuk mengabdi gue adalah memberikan kontribusi sebesar-besarnya pada manusia dan kemanusiaan, untuk hidup dan kehidupan. Lebih spesifiknya lagi, mungkin sampai detik ini salah satunya adalah dunia pendidikan. Maka dengan segala daya upaya gue akan mengusahakan kontribusi gue di bidang itu.

Dalam kasus membantu dosen tersebut memecahkan jawaban dari soal-soal emejing itu, gue bisa memilih untuk terus berprasangka bahwa beliau memanfaatkan gue, kemudian gue ngasal aja kerjainnya, bodo amat mau bener atau salah, bisa gue pura-pura sakit perut karena sedang mengandung anak ke 13. Yah pokoknya banyaklah alasan yang bisa dibuat. Berbeda ketika gue mencoba mengingat lagi mimpi-mimpi gue, harapan-harapan gue yang bahkan gue gak tau bisa menyaksikan hal tersebut atau enggak. Bayangan itulah yang membentuk arah yang jelas, yang membuat gue punya alasan yang kuat untuk berjuang memberikan yang terbaik setiap hari dan dalam setiap momen. Sumpah lho feel nya langsung beda… BEDA BANGET! Macem makan sambel yang diblender sama yang diulek. Halah

Tapi serius deh….Hal ini akan terus gue ingat sebagai pembelajaran penting bahwa aktivitas seseorang yang dimanfaatkan dan yang berguna bagi orang lain bisa jadi sama. Bisa jadi sama-sama capek, sama-sama ‘gak dapet apa-apa’, sama-sama ‘orang lain seperti lebih diuntungkan’. Namun mindset kita yang memberikan nilai yang berbeda dan tentunya hasil yang berbeda pada setiap aktivitas kita. So, lo pilih jadi orang berguna atau orang yang dimanfaatkan? Gue sih pilih Johnny Depp. Yak mulaai ngimpi!

Bandung, dalam perenungan menuju detik-detik seperempat abad


Selasa, 25 Oktober 2016

Menebar Ketakutan

gambar diambil dari: https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/236x/59/62/53/5962532b8be4feddd6274571159276eb.jpg

Suatu hari saya berbincang dengan salah seorang penulis ternama di Indonesia. Bukunya menyandang gelar best seller nasional hanya dalam waktu kurang dari dua minggu. Ia memberikan tulisan-tulisan segar yang memutar balik kata-kata yang lazim digunakan dalam sebuah kalimat. Saat saya tanya apa kiat suksesnya menulis ia berkata “Tidak ada yang namanya kiat-kiat menulis. Kebanyakan aturan justru membuat kita takut untuk menulis” kemudian ia bercerita tentang keprihatinannya terhadap pola pendidikan bangsa ini. Ia mencontohkan dalam bidang penulisan, kebanyakan dari kita sejak kecil diberikan setumpuk aturan untuk menulis. Misalnya saja kalimat yang benar adalah yang mengandung unsur S-P-O-K, gagasan utama di awal kalimat, diikuti kalimat pendukung. Ibu harus ke pasar, Ayah harus bekerja, Kakak ke sekolah, Budi dan Ani belajar. Hal ini justru seringkali membuat kita takut untuk menulis. Takut salah tak sesuai aturan yang berlaku.

Setelah saya renungi, saya mendapatkan kesimpulan bahwa benar sejak kecil kita lebih sering dididik dalam suasana yang menakutkan dan mencekam ketimbang diberikan dorongan untuk memiliki keberanian dalam diri kita. Bukan hanya dalam hal menulis, hampir di setiap lini kehidupan. Pikiran saya kembali ke masa silam pada saat saya duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) hampir sekelas menertawai saya karena mewarnai gambar semangka dengan warna kuning. Guru pun mengatakan bahwa itu salah, dimana-mana semangka itu berwarna merah. Pulang sekolah saya menangis mengadukan hal itu pada ibu saya. Beruntung saya memiliki keluarga yang selalu meng-encourage satu sama lain. Sehingga hari itu diputuskan ruang imajinasi yang terbebas ada di dalam rumah ini. Di luar harus sedikit ‘beradaptasi’ dengan masyarakat. Beberapa tahun berikutnya saya makan semangka berwarna kuning. Mutasi genetik alamiah membuat berkembangnya varietas semangka di Afrika dari warna merah menjadi kuning. Saat itu rasanya saya ingin mengundang teman-teman saya di TK dan termasuk guru saya untuk menyantap bersama semangka tersebut.....


Untuk versi lengkapnya teman-teman bisa membuka website Retorika kampus, berikut link nya:
http://www.retorikakampus.com/berita/baca/2836-menebar-ketakutan

Senin, 29 Agustus 2016

Pokemon Go, Awkarin dan Reshuffle Kabinet

Buat lo yang baca judul notes kali ini kemudian mengerenyitkan kening sambil mikir, “apa kaitannya?” tenang lo gak sendiri. Gue juga yang ngasih judul bingung. Sama membingungkannya dengan kehidupan dunia akhir-akhir ini. Dulu jaman SD masalah teberat dalam hidup gue cuma seputar PR Matematika dan Ujian Penjaskes (Pendidikan Jasmani dan Kesehatan red.), maklum gue suka bengek kalo disuruh lari-lari keliling lapangan gitu. Tapi sekarang, nonton berita atau buka sosmed aja udah bikin gue bengek. Ditambah lo punya nyokap bokap yang lagi belajar mengenal dumay alias dunia maya. Kelar idup lo.
Fenomena pertama tentang Pokemon Go. Gue gak habis pikir kenapa ya dunia ini sekarang? Masa iya ada orang sampai nyemplung danau karena keasyikan nyari pokemon, nyewa ojek aplikasi sampai ratusan ribu buat nyari Pokemon bahkan gue denger ada yang masuk markas TNI buat nyari Pokemon! Baru-baru ini juga ada yang nikah pakai ornamen-ornamen ala-ala Pokemon, seperti cincin di dalam Pocket Ball. Hellooww!! Gue agak horor aja kalo besok suami gue ternyata maniak Pokemon dan namain anak gue Pikachu Putra Pratama atau Bulbasaur Putri Pratami. BUNUH HAYATI BANG BUNUUUH!
Belum lagi ditambah simpang siur arti kata Pokemon. Suatu hari disaat gue dan Uya (adek gue yang paling kecil) lagi nonton tv, tiba-tiba emak gue datang menghampiri dengan muka sedikit panik.
Emak gue: “Lin, lin... katanya Pokemon Go artinya Aku Yahudi lhoo... terus Pikachu artinya Tuhan itu lemah. Ini Mama dikirimin temen mama di WA”
Uya: “Bukan Ma itu hoax”
Emak gue: “Masa sih? Kalo beneran gimana coba? Mama cuma khawatir kalau ternyata Zuma yang udah keluarga kita mainin dari zaman kuda makan batu ini artinya Aku Anak Tuyul”
Kemudian gue dan Uya serentak berakhir mencukur bulu kaki masing-masing.
Anyway gue cukup bersyukur sih karena punya keluarga yang cukup freak. Jadi, boleh dibilang kami selalu antimainstream, mencoba tak terbawa arus lebih tepatnya. Misalnya sewaktu kita kecil, gue dan adek-adek gue terbiasa dicekokin VCD bajakan buat nonton film-film robot macem Power Ranger, Zyu-Ranger, Car Ranger hingga Ultramen. Dari semua kisah-kisah heroik itu entah kenapa kita selalu dukung penjahatnya. SEKALI LAGI GUE TEGESIN…KITA DUKUNG PENJAHATNYA.
Apalagi Ultramen.
OMG HELLOOOW SIAPA DI DUNIA INI YANG PENGEN PUNYA PAHLAWAN MACEM IBU-IBU KOMPLEK SENAM SORE PAKE BAJU KETAT PADAHAL BADAN UDAH MELEBAR KEMANA-MANA!!!
“Janttuuuung Sehaaat” teriakan ibu-ibu yang mematikan jantung gue dan adek-adek gue.
Balik lagi ke tontonan semasa kecil. Salah satunya ya Pokemon itu… asal tau aja dulu gue sama adek-adek gue fans berat Tim Rocket. Itu loh musuhnya Ash, Pikachu dan kawan-kawannya. Sebuah tim super solid yang berisi 2 orang dan 1 bukan orang. Seorang perempuan rambut pink (Jessie), laki-laki berambut biru (James) dan seekor kucing sebagai pokemonnya (Meowth). Kebetulan gue memerankan Jessie, Arif sebagai James dan yaah lo tau sendiri nasib anak bungsu, si Uya harus ikhlas menerima perannya sebagai Meowth.
Mungkin kebencian kita kepada para pahlawan-pahlawan itu adalah karena sifat sok pahlawannya yang mencoba memarginalkan kaum-kaum yang berbeda pendapat dengan mereka. Jumawa istilahnya. Menindas yang lemah apalagi dengan tindakan fisik dan kekerasan. Gak banget! Mungkin cuma ada satu lakon yang kita respect sampai sekarang yaitu Hatchi. Seekor lebah kecil yang mencari mamanya. Ketulusan dan kemurnian hati Hatchi lah yang menguatkannya. Meskipun ia dari kaum lemah namun ia tak pantang menyerah #MaafkanTeoriSampahIni
Btw, sekeluarga gue sampai sekarang hapal betul lirik OST Hatchi. Seringkali saat memasak, emak gue sambil berdendang
“Hatchi anak yang sebatang kara…. Pergi mencari ibunya… dimalam yang sangat dingin. Teringat mamaaaa” #salahasuhan
Nah, karena sifat antimainstream itulah gue dan adek-adek gue malah rada males buat ngikutin sesuatu yang booming banget. Kita bertiga gak ada yang download aplikasi Pokemon Go atau Camera 360. Thanks God…
Kemudian selain Pokemon Go muncul pula fenomena Awkarin. Seorang remaji (remaja putri) yang terkenal karena akunnya di sosial media yang sering pamer kehidupan remaja yang katanya kekinian. Mulai dari ngerokok, baju seksi, tato, sampai kissing sama pacar. Usianya 18 apa 19 gitu gue lupa. Sebelumnya saat SMP Awkarin ini termasuk siswi teladan dengan peringkat nilai UAN tertinggi gitulah, Matematikanya dapet 10, berkerudung dan terlihat sangat kalem. Yaah mungkin itulah kira-kira yang diributkan banyak orang.
Well, bukan bermaksud membela Awkarin ini. Tapi slogan dia yang terkenal “Nakal boleh, bego jangan” itu sebenernya diterapkan juga di keluarga gue. Emak gue sering banget bilang, “Kalo mau banyak tingkah harus pinter. Malu kalo banyak gaya tapi bego”
Gusti Pangeran. (Eh btw gusti pangeran itu gimana sih sejarahnya? Kenapa nenek-nenek Jawa kalo ngomel/ngeluh suka nyebut Allah/Tuhan dengan Gusti Pangeran ya? #random)
Nah, gue lagi mikir nih… kenapa oh kenapa gue dan adek-adek gue gak jadi semodel si Awkarin ini? Jangankan pake baju seksi yang harganya sepertinya selangit itu, ada juga gue pake daster ke kampus, si Arif malah ke kondangan pake boxer sama sandal hotel. Cacat.
Sebenernya kalo dipikir-pikir temen-temen gue dan temen-temen adek gue banyak kok yang modelnya macem Awkarin itu. But why? Outputnya beda? Setelah gue renungi mungkin karena faktor keluarga juga yang selalu mendampingi dan memberikan batasan-batasannya. Dimana kita diberikan pemahaman kalau melakukan apapun akan ada konsekuensi apa yang harus kita tanggung. Jadi nakal yang dilakukan gue sama adek gue paling yaah sejenis apa ya… mungkin sejenis ngerjain temen atau ngerjain guru #eh
Lagipula emak gue ini rada-rada licik sih. Dulu gue pengen ikutan temen gue ke diskotik gitu (hanjaaay anak warteg sok-sokan ke diskotik). Setiap gue mencoba nakal ala Awkarin gitu emak gue bilang. “Emang kamu udah sepinter apa sih sampai mau nakal macem begitu?” “Aku kan kemarin UAN, Matematika dapet 10, diterima di SMA unggulan!”, sahut gue.
“Yaelaah itu mah semua orang juga bisa! Tuh liat orang udah pada bikin hotel di bulan, baca majalah itu! anak seumuran kamu, juara kelas, anak olimpiade, bantu bapak-ibunya cari uang, sekarang udah bisa bikin sekolah buat anak-anak jalanan, ngapain cuma diterima di SMA unggulan aja dibanggain” kata Emak gue.
Kemudian gue sadar kalau nakal adalah melakukan hal yang negatif yang merugikan diri sendiri apalagi sampai merugikan orang lain maka selamanya kita adalah manusia yang bego. Karena kita manusia bego sehingga kita tidak akan pernah bisa berbuat nakal. Gugur sudah slogan Awkarin yang agung “Nakal boleh, bego jangan”
Ah lieur pan urang jadina….
Tapi sob serius deh, gue ngerti lah dikit-dikit tabiat si Awkarin itu. I almost want to be like her in the past. Pergaulan, eksistensi diri, semua itu yang menurut gue menghantarkan Awkarin sampai di titik ini. Makanya penting banget ada peran keluarga buat ABG macem Awkarin gitu.
Mengedepankan diskusi.
Mungkin itu yang selalu emak dan bapak gue coba lakukan. Topik seekstrim apapun selalu bisa didiskusikan di keluarga gue.
Gue: “Ma, temen aku ada yang jadi perek masa. Tapi sekarang jadi kaya banget. Barang-barangnya bagus bagus”
Emak gue: “Perek apaan?”
Gue: “Itu katanya boleh dipegang-pegang gitu, harganya beda-beda atas bawah, terus kalo masih sekolah sama kuliah sama om-om yang udah kerja beda juga harganya”
Emak gue: “Hmm… kata kamu gimana tuh kalo kayak gitu”
Gue: “Gak tau, katanya dia butuh uang. Ibunya janda gitu, sakit-sakitan”
Emak gue bilang, kehormatan adalah segalanya bagi seorang perempuan. Hanya akan ada penyesalan saat seorang perempuan melepaskan kehormatannya dengan cara yang tidak tepat. Waktu itu emak gue malah ngasih duit buat gue kasih ke temen gue itu dan mencoba mengajaknya untuk berhenti dari aktivitasnya. Dan temen gue itu nangis… tapi akhirnya gue gak deket lagi sih. Kenapa ya? mungkin dia juga jijik liat kelakuan gue yang suka makanin cacing kebon…
Dan gue baru sadar, butuh mental luar biasa untuk menjadi orangtua gue. Barangkali kalo orangtua lain ditanya begitu yang keluar bakalan “Kamu jangan deketin dia lagi! Pokoknya Mama gak suka kamu bergaul sama dia! KAMU PILIH DIA ATAU MAMA!”
Kemudian si anak milih temannya, diusir dari rumah dan menjadi ayam kampus bersama temannya tadi. Kemudian soundtrack Hatchi kembali dikumandangkan.
“Mama… mama… dimanakah kau berada? Mama… mamaa kuingin segera bertemu” #skip
Diskusi- diskusi di dalam keluarga gue juga bukan sekedar masalah pertemanan, hubungan sosial di sekolah, di kampus, di komplek. Tapi juga menyangkut politik tanah air. Walaupun hanya diskusi ringan penuh canda gak mutu tapi hal itu ternyata ngaruh juga buat gue. Setidaknya gue tidak tumbuh menjadi seseorang yang apolitis. Termasuk pengambilan keputusan yang menurut gue penting.
Emak gue: “Jadi begini, mama dapet promosi naik jabatan. Tapi diminta untuk ngasih petinggi-petinggi gitulah. Menurut kalian gimana?”
Gue: “Berapa emang?”
Emak gue: “Yah bisa sampai ratusan juta”
Uya: “Iyuuh, mending sini buat aku beli knalpot model baru, kenceng suaranya mak”
Arif: “Mending buat beli kandang ayam lah buk”
Bapak gue: “Mending buat nanggap dangdut lah, nanti papa bisa sawer”
Kemudian kita meninggalkan emak gue dalam kebimbangan karena diletakkan di keluarga macem begini. Eh wait! DOSKI GAK BOLEH BINGUNG KARENA DOSKI PENYEBAB KEANEHAN UTAMA KELUARGA INI! Setelah itu, yang gue inget emak gue dipindah tugas, dibuang dengan sebutan halus bernama “Mutasi”. Waktu itu kepercayaan dirinya hancur, ia berkali-kali nanya,
Emak gue: “Kalian malu gak sih punya ibu kayak mama yang cuma kerja di bagian ini?”
Gue: “Eh apaan tuh Uy, liat uy ada orang gila gak pake baju”
Uya: “Anjay itu tampangnya mirip si Arif”
Arif: “Lin laki lu ya? Cocok gue liat-liat... Bahahahaha bagoy otongnya!”
Kemudian emak gue nyalain setrikaan, buat nyetrika otak kita bertiga. Gak lah ngaco! Kemudian emak gue sadar bahwa pertanyaan konyol macem begitu emang bukan buat dijawab. Nah itu maksud gue! Well, gak lama setelah itu, kepemimpinan berganti, situasi politik berganti. Emak gue pun kembali menemukan nama baiknya.
Cerita-cerita intrik politik itu seru kalau diceritakan di keluarga. Yang kayaknya berat menjadi seringan obrolan di sela-sela nonton Spongebob The Movie. Kadang cerita dari kantor emak gue, kadang cerita dari kantor bapak gue, kadang dari kampus gue, pernah juga dari kampus-kampus adek gue. Bapak gue juga pernah cerita kalo ada pimpinannya yang masuk penjara, kronologis ceritanya, menurut bapak gue gimana, dan menurut sumber berita yang gue baca gimana. Kadang kita sepakat, tapi sering juga berbeda pendapat. Tapi biasa aja… setiap individu berhak memutuskan apapun dalam hidupnya.
Seperti reshuffle kabinet kali ini. Bukan cuma para menteri yang deg-degan menunggu keputusan presiden. GUE DAN KELUARGA GUE JUGA!!! Dan saat pengumuman datang…
Emak gue: “Lin tuh lin bener kan kata Mama, menteri mama gak jadi diganti”
Bapak gue: “Ah papa kalah taruhan”
Gue: “Itu menteri papa diganti ya?”
Bapak gue: “Iya, yang kemarin itu Lin, yang papa tunjuk-tunjuk ngasih tau kamu orangnya”
Uya: “Nih ah gue kalah taruhan”
Arif: “Bayarin gue dulu lah uy, gue juga kalah”
Emak gue: “Siniin uang kalian, 20 ribu tiap orang sesuai kesepakatan! Asiik Mama kaya raya”
Gue: “Iiih amit ih makan duit haram”
Emak gue: “Lhoo padahal ini mau buat traktir kalian lho seafood”
Kemudian Arif, Uya dan Bapak gue udah kebeli idealismenya seharga seafood. Terpaksa gue juga. #cirikhasnegarawan
Intinya Pokemon Go, Awkarin dan Resuffle Kabinet adalah sesuatu yang bisa jadi bermuara pada keluarga aku, kamu, kita. “Harta yang paling berharga adalah keluarga…. Istana yang paling indah adalaaaah keluargaaaa. Selamat Pagi Emak, Selamat Pagi Abah… Mentari hari iniii berserii indaaah…..” (OST. Keluarga Cemara)
Maap ini notes gak ada pesan moralnya.
PS (Pesan Sponsor): Buat kalian pembaca setia/tidak setia notes gue…. Jangan lupa yaa beli buku perdana gue “Chicken Soup Tumpah”! Banyak cerita-cerita baru yang belum pernah gue post sebelumnya lho… Tunggu ya di toko-toko buku terdekat. Kalian juga bisa ikutan pemungutan suara buat sampulnya lhoo… Tinggal komen di postingan gue sebelumnya tentang pemungutan suara sampul buku. Tiga pemenang beruntung bisa mendapatkan buku tersebut GRATIS! #MentalGratisanBiasanyaMahasiswa

Do What You Love or Love What You Do

Gue lagi liburan semester genap, dari awal bulan Juni sampai akhir bulan Agustus. Gue juga heran kenapa lama banget. Gue ngeri aja pas masuk lagi semua dosen udah lupa sama mahasiswanya. Dan mahasiswanya lupa jati dirinya.
Dosen: “Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Mahasiswa: “Saya juga tidak tau pak… Siapa saya? Mengapa saya di sini? Tempat apa ini?? Tiiiidaaaaaaaaakkkk!!!”
Yah gue sih yakin gak sampai kayak gitu, kekhawatiran gue sebatas pada lupa cara membaca dan menulis. Sekarang aja gue coba megang pulpen udah kayak penderita Parkinson gitu… gemeteran. Tulisan tangan gue juga jadi jelek. Kayaknya udah saatnya deh gue balik ke dunia seni peran dan membangun kembali bahtera rumah tangga bersama Johnny Depp #skip
Liburan itu hampir selalu gue habiskan untuk nonton film, baca buku (yang tentunya gak ada kaitannya dengan buku-buku perkuliahan gue), dan juga bikin janji sama temen-temen lama, entah temen SD, SMP, SMA, yah pokoknya temen-temen yang sudah tak terjamah lagi karena jarak dan waktu yang memisahkan.
Mungkin bagi sebagian orang, kegiatan begini gak produktif dan jauh dari kata menghasilkan uang. Kalo kata salah satu temen gue “Ih gue sih ya mendingan ikutan magang lah, duit dapet pengalaman dapet, atau apa kek gitu ikutan kursus atau les”, bener juga siih tapi buat gue selalu ada hikmah dari setiap liburan yang bisa jadi tulisan baru. Salah satunya saat gue ketemuan sama temen SMA gue. Namanya Muhana dipanggilnya Emyu.
Kita janjian buat ngobrol di taman paskasarjana-nya IPB. Suasanya disana cukup romantis (sayang gue kesana selalu dengan sesama jenis, heran). Di sana banyak pohon kapuk yang tinggi-tinggi dan ngejatohin helaian kapuk-kapuk, berasa lagi turun salju gitu. Gue aja suka lari-lari manja gitu di lapangannya sambil nerbang-nerbangin itu kapuk. Trus gue muter-muter cantik gitu ketiup angin kayak di film-film Bollywood. Tapi gak tau apa yang salah, kegiatan itu selalu berakhir dengan muntah jamaah.
Anyway back to Emyu. Doski ini salah satu temen yang gue anggap unik dan sangat antusias. Sekarang dia kerja di sebuah perusahaan cat tembok multinasional di daerah Cikarang. Dan lo tau??? DIA SANGAT PASSIONATE DENGAN CAT TEMBOK!
Gue juga heran ada juga orang yang punya passion ke cat tembok, orang mah biasanya passion ke musik, passion ke uang, atau passion ke sejarah. Tapi dia ke cat tembok… Pas ketemu aja dengan sangat bersemangat dia langsung cerita tentang dunia cat tembok.
Emyu: “Lo tau gak Jaw (Jawa panggilan gue zaman SMA)? Ternyata ada 2016 warna lho buat cat tembok lo… dan mereka semua punya nama!!!”
Gue: “Sumpah lo? Namanya mungkin Red Velvet I, Red Velvet II, Red Velvet XXXX
Emyu: “Kagaaakk… namanya beda-beda… katalognya tebel banget. Ntar kapan-kapan gue kasih liat” Gue cuma bisa menelan ludah.
GUE CUMA BUTUH KATALOG OR*FLAME!!!
Di sela-sela obrolan selalu ada sekilas info tentang CAT TEMBOK!
Kasus 1
Gue: “Eh lo pernah makan di sini gak?”
Emyu: “Pernah sih tapi kata gue kurang enak iya ga sih? EH BTW LO TAU GAK SIH KALO UMUR SEMEN ITU PUNYA PENGARUH SAMA WARNA CAT TEMBOK??? UMUR SEMEN ITU BAGUSNYA 28 HARI LHO JAW SEBELUM LAYAK DIKASIH CAT
Gue udah siap-siap beli obat pereda kejang-kejang.
Kasus 2
Gue: “Eh myu, ajarin gue bikin jurnal bahasa Inggris dong. Gue merasa lemah banget”
Emyu: “Oke siap nanti gue kirimin buku-buku gue latihan di rumah, EH BTW JAW LO TAU GAAAK SIH? ADA WARNA-WARNA YANG BIKIN RUANGAN LO LEBIH LUAS KARENA INTENSITAS CAHAYA YANG MENEMBUS CAT DIPANTULKAN…..
Suara Emyu tak terdengar lagi karena gue udah terkapar, menggelepar di tanah. Dikerubungin cacing taman.
Selain topik yang sungguh unik, si Emyu ini kalo ngomong semangat banget. Bahkan senam Jantung Sehat yang selalu gue ikuti tiap minggu pun tak mampu membuat jantung gue tegar… Serius kaget banget tiap dia loncat bahas cat tembok, sampe kadang-kadang doi kena pukul gue saking kagetnya.
Setelah tuntas doski bercerita tentang hidupnya dan cat tembok sebagai sahabat barunya. Giliran gue yang mengeluhkan nasib gue akhir-akhir ini. Gue cerita tentang perasaan minder gue dalam menjalani dunia saintis, dunia ilmiah, dunia akademisi, yah pokoknya dunia yang nyerempet-nyerempet sama dunianya ilmuwan lah.
Gue: “Myu, lo tau gak??? Gue seneng banget liat lo bisa menjalani kehidupan yang lo cintai. Gue harus berusaha keras mencintai apa yang gue lakukan sekarang. Mencoba buat mencintai pelajaran-pelajaran kuliah gue dengan segala cara. Bahkan gue sampai harus memvisualisasikan semua hal abstrak macem rumus atau teori-teori, dan itu jijik banget”
Asal tau aja, kalo lo liat buku catetan kuliah gue, lo bakal nemuin buku itu gak ada bedanya sama diary anak cacat. Kadang kalo gue udah gak ngerti banget apa yang dijelasin dosennya, gue suka kasih gambar cewek yang lagi berdoa habis solat sambil dikasih kotak dialog buat teriak “TOLONG HAMBA YA ALLAH, HAMBA BUTA ARAH”.
Misalnya si dosen jelasin tentang Teori Hukum Monod, gue yang gak ngerti dan mencoba menguliknya di kosan berakhir gagal fokus dan justru baca-baca biografi si Monod di internet. Walhasil catetan kuliah gue tentang Teori Hukum Monod berisi “Monod ilmuwan biologi tahun 40-an, pernah jadi Kepala Staf Angkatan Dalam Negeri Perancis waktu Perang Dunia II, anaknya namanya bla bla bla… dan OMG doi punya seorang sahabat yang lo tau apa? Setia abis… masak ya waktu…. Pas dia dapet nobel tahun…”
Kadang kalo udah akut kejiwaan gue, gue suka print gambar foto mereka-mereka (para ilmuwan) yang entah kenapa bikin hidup gue semakin runyam. Beberapa gue kasih bintang-bintang dengan notes di bawahnya “LEH UGA <3 span="">
Kadang buat memacu diri sendiri, di catetan kuliah itu gue tulis curhatan gue, atau bahkan dialog dengan diri gue sendiri. Bener-bener di halaman yang sama dengan catetan yang habis gue liat dari slide ppt dosen gue. Contohnya:
“Reaktor ini memiliki kelebihan berupa waktu yang lebih singkat dan biaya operasi yang lebih murah”
Kemudian dengan tak senonoh di samping kata-kata itu terpampang gambar sebuah kotak bertuliskan
“Lin, lo liat itu orang-orang udah pada nemu hal-hal baru? Lo kapan? APAA?? LO PUTUS ASA? NAJIS LIN! LO LEBIH NAJIS DARI NAJIS MUGHOLADZOH! ITU TINGKATAN NAJIS TERTINGGI! Enggaaak Lin… gue yakin seyakin-yakinnya lo bisa… Bismillah… INGET ALLAH MAHA SEGALANYA!!! LIN JIJIK LIN JANGAN NANGIS”
Kemudian ada gambar cewek lagi nangis yang digampar cewek lainnya. Dan itu dua-duanya gue… #TolongKiriminGueNomorPsikiater
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Seorang temen gue bernama Tiwi minjem catetan gue sebelum ujian. Dan entah kenapa, kecepatan tersebarnya fotokopian anak kuliah nyaris menyamai kecepatan cahaya, sekitar 3,00 x 108 m/s. (Bodo amat Lin) Besoknya yang gue denger hanya cekikian-cekikian temen sekelas gue. Feeling gue udah gak enak… Tiba-tiba Ka Didi salah satu temen sekelas gue juga ngomong “Anjiir semalem gagal fokus gue, gak belajaar gue sama sekali, jadi baca catetan kuliah si Lina, gila ngakak banget gue. TOLONG HAMBA YA ALLAH??? Bahahahhaa”
RUSAK IMEJ YANG GUE BANGUN SELAMA 6 BULAN INI SEBAGAI WANITA DEWASA, ANGGUN, DAN STABIL!
Rasa-rasanya pengen gue bakar catetan kuliah gue, tapi aib sudah menyebar. Ya sudahlah apa daya nanti aja pas S3 gue bikin imej wanita dewasa, anggun dan stabil-nya (target dari TK yang selalu gagal).
Pas cerita itu si Emyu gue lihat malah udah ketawa-ketawa sampai ususnya terburai. Yah akhirnya gue bantu ngumpulin ususnya dan masukin ke dalem perutnya. Habis gue jahit perutnya, barulah dia bisa ngasih sambutan pendapat.
Emyu: “Emang lo anak rusak…. Jiwaa lo udah rusak! Tapi lo harus tetep pertahanin karakter lo Jaw… Tiap manusia itu unik”
Gue: “GUEEE GAK AKAN BISA BERTAHAAAN DALAM DUNIA INI DENGAN KELAKUAN GUE SAAT INI MYUU”
Terbayang pas gue jadi dosen kemudian mahasiswa gue ngelemparin gue pake pulpen… atau waktu gue seminar nasional semua hadirin ngakak dan judul acara diganti SRIMULAT IS BACK! Die
Emyu: “Gak… Gue yakin banget suatu hari lo bisa sukses di dunia saintis apalah itu tapi lo juga gak kehilangan karakter lo ini. Lo tinggal belajar menempatkan aja, sesuai sikon.”
Gue: “Tapi gue suka jiper kalo udah liat orang-orang yang serius banget dan emang pinter maksimal ajigile”
Emyu: “Lo gak perlu jiper… lo buktiin aja sama mereka bahwa lo struggle. Buktiin ke mereka kalo lo gak bisa diremehin, ya dengan cara-cara lo macem tadi. Oh iya btw, lo harus coba buat lebih mencintai apapun yang lo lakuin sekarang. Gue liat emang lo tertekan banget gitu sih… Coba lo ajak ngobrol lah itu semua makhluk halus ciptaan lo sambil ngomong ‘Say please be cooperative yaaa, otakku, wahai benda-benda lab, laptop sayang, semuanya yuk gue mohon selalu support gue ya’, gitu aja”
Gue: “Gue pengen nyari orang normal ah disekitaran sini, bye
Ngobrol sama Emyu hari itu memberikan gue banyak pelajaran. Salah satunya terasa benar quoteDo what you love or love what you do’. Lakukan apa yang kamu cintai atau cintai apa yang kamu lakukan. Dalam hidup mungkin tidak semua orang diberikan kesempatan melakukan apa yang mereka sukai, atau mungkin tidak dalam porsi besar dalam hidupnya. Ada banyak faktor seseorang tidak bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan atau kecenderungannya. Entah karena keterbatasannya atau memang karena pilihannya.
Namun, mereka masih dapat memilih untuk mencintai apa yang mereka lakukan dan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Semua butuh proses… yang perlu gue lakukan adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, yang terbaik yang bisa gue berikan. Toh, cinta itu dapat tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Mirip cerita engkong gue yang dijodohin sama nenek gue. Awalnya mungkin tidak terbiasa, namun saat engkong gue meninggal dunia, nenek gue selama 40 tahun setia dalam kesendiriannya sampai akhir hayatnya. Apalagi namanya kalau bukan cinta? Terus gueee kapan dapeet yang macem begiiitu????
#AkuInginSembuh(LagiDanLagi)

Kamis, 28 Juli 2016

Pemungutan Suara Sampul Chicken Soup Tumpah

Aih aih.... akhirnya gue buka blog gue lagi setelah sekian lama gue anggurin macem tes*s gue (mood langsung drop banget nyebut kata itu). Nah kali ini gue balik buat menyampaikan kabar gembira bagi gue dan mungkin malapetaka bagi lo semua... Sebentar lagii buku perdana gueee terbit dong.. ya Allah penantian seperempat abad ini akhirnya membuahkan hasil. Itu yang bikin gue happy. Tapi gue justru prihatin sama lo dan keluarga lo, temen-temen lo, keturunan lo, semuanya lah... takutnya belum siap buat baca buku gue ini....
Baiklah tanpa berbasa basi lagi, gue persembahkan.....

PEMUNGUTAN SUARA SAMPUL BUKU CHICKEN SOUP TUMPAH!!!

This is time!
Buat teman-teman pembaca setia/tidak setia tulisan penulis caem yang belum berjodoh ini. Saatnya untuk teman-teman menentukan pilihan pria mana (fokus Lin, plak!) cover mana maksud gue... yang paling cocok untuk buku perdana gue.
Cukup dengan mengisi di kolom komentar nomer berapa yang dipilih, boleh juga disertai alasannya.
Dengan membantu gue, teman-teman punya chance untuk mendapatkan buku Chicken Soup Tumpah, GRATIS bagi 3 orang yang terpilih!
Jawabannya ditunggu sampai tanggal 3 Agustus pukul 23.00 WIB yaa. Berita sepenting ini sangat boleh di share barangkali mempengaruhi election party Negeri Paman Sam (yakali)
NB: Chicken Soup Tumpah adalah kumpulan catatan harian seorang Nur Novilina, perempuan tanggung (lho?) yang punya mimpi dan imajinasi abnormal. Ditemani keluarga yang super absurd dan lingkungan pertemanan yang gak kalah freak-nya.
Berharap dapat memotivasi layaknya buku legendaris Chicken Soup tapi sepertinya buku ini tidak akan memotivasi sama sekali...
Well, siapapun dan dimanapun Anda semoga buku ini bermanfaat buat kehidupan Anda dan alam semesta. Amiiiin

No. 1

No. 2

No.3

No. 4
Nah itu dia bakal calon cover buku gue... kalo kalian ada waktu sok lah mangga ditunggu komennya...
Thanks for sharing, anyway kalian bisa juga dengan komentar di facebook gue (Nur Novilina Arifianingsih) atau instagram gue di @nurnovilina

Selasa, 01 Maret 2016

When You Need 'Motivasi Sukses'

Sebulan lebih setelah gue menuliskan sebuah cerita berjudul “ITB dan Sebagian Diri yang Terakui” dan menjadi viral dengan jumlah like 4.925, share sejumlah 3.684 dan comment sebanyak 671 tepat pada saat notes ini dibuat. Well, walaupun masih kalah jauh sama jumlah like, share dan comment-nya video anak ABG yang lagi ngegebukin temen sekelasnya atau video See You Again-nya Wiz Khalifa feat Charlie Puth dalam Bahasa Jawa (indikator tontonan bermutu gue sehari-hari).
Sebulan ini bukan seperti sebulan biasanya, hidup gue mendadak kayak roller coaster, masalahnya bukan roller coaster di Dufan, tapi roller coaster di Ohio, Amerika Serikat yang suka masuk 7 wahana menegangkan di dunia versi On The Spot (lagi-lagi indikator tontonan Jones a.k.a Jomblo Ngenes di usia nyaris seperempat abad). Gue yang awalnya bebas mau ngapain aja (bahkan kalaupun gue tiba-tiba koprol di jalan raya atau turun tangga pake sikap lilin, gue yakin gak ada yang ngegubris) dalam hitungan hari jadi perbincangan dimana-mana, puluhan chat masuk, memastikan Nur Novilina yang lagi diomongin sama lingkungan kantor atau kampus atau grup WA mereka adalah gue.
Pernah suatu hari pas gue lagi di perpustakaan dan mengerjakan tugas, gue dapet posisi duduk dimana muka gue menghadap jendela dan membelakangi orang-orang, ada sekumpulan anak cewek tepat dibelakang gue melakukan percakapan yang kurang lebih seperti ini (dilengkapi isi hati gue saat itu):
Cewek 1: “Eh lo udah baca belum notesnya, yang nulis tentang ITB itu?” (yaaaak…. Semoga selain notes gue ada emak-emak gila yang secara random nulis ITB dari sudut pandang emak-emak)
Cewek 2: “Ya udah lah, yang ditulis mbak-mbak, Nur siapa gitu kan?” (Semoga masih ada Nur Komariyah atau Nur Laela yang nulis tentang ITB --> ciri-ciri optimisme nyata)
Cewek 3: “Nur Novilina” (Gue ngejedotin kepala ke jendela, sampai pecah kacanya terus gue kunyah kacanya layaknya kuda lumping)
Cewek 1: “Kata lo gimana tulisannya? Kira-kira dia udah dilacak atau ditangkep dosen belum ya?” (okeeee gue merasa seperti salah seorang mafia seksi macem Angelina Jolie yang jadi pengedar ganja)
Cewek 2: “Kata gue sih lucu-lucuan aja notesnya, ga perlu ditanggapi serius” (uuuu peluk sini sama mama…)
Cewek 3: “Hmm kata gue mbak-nya kurang kerjaan sih, ngapain lagi nulis-nulis kayak gitu segala?” (gue bukaaan kurang kerjaaan, gue kuraaaang duiiitt!!! Pengen beli pulau tapi sejauh ini baru bisa bikin pulau di atas bantal a.k.a. jigong)
Dan sekitar 5 menit mereka sibuk membicarakan isi notes itu, semuaaa dibahas, terjadi pro kontra, bahkan ada hal yang bikin gue geleng-geleng kepala
Cewek 3: “Eh yang mana sih orangnya?”
Cewek 1: “Iiih itu lhooo yang pake kerudung, aduh orangnya suka ke perpus kok, ntar kalo ada gue tunjukin deh…” (gue nyaris balik badan sambil bilang “HOLAAAA IT’S MEEEEEHHH!!!! Lalu dilanjutkan joget Zumba, tapi akhirnya gue tekan niat itu, takut terjadi pembunuhan massal)
Cewek 2: “Katanya sih mbaknya pas S1 udah terkenal gara-gara suka nulis” (jangan sampai habis ini ada yang bilang “katanya sih dia jadi gila gitu gara-gara ditinggal cowoknya yang artis itu lhoo.. Johnny Depp, LDR gitu sih mereka, emang susah banget sih kalau LDR-an”)
Dan gue terjebak dalam situasi itu. Plan A gue adalah menunggu mereka pergi dan gue akan secepat kilat cabut ke kosan. Plan B gue adalah balik badan terus ikut nimbrung gossip “Eh ciiiin ikutan dong eike, seru bingits siiih”. Tapi akhirnya gue bertahan pada plan A, sampai tiba-tiba pensil gue jatoh yang membuat gue harus mengambil dengan konsekuensi menunjukkan jati diri gue. Gue masih bertahan buat lanjutin nulis pake tinta darah (kalo ini hoax betulan). Dan tetiba Pak Lili penjaga perpus teriak “Mbak Nur itu pensilnya jatoh”.
Tak terelakkan lagi suasana menjadi hening mencekam… diganti bisikan panik sekumpulan cewek-cewek itu.
Cewek 2: “Mati kita!! Itu orangnya”
Cewek 1: “Sumpah lo? Parah pasti denger lah apa yang kita obrolin dari tadi…. Gimana dong gimana dong?”
Cewek 2: “Minta maaf gak ya? Aduuuuh bodo banget sih kita, aduh gue maluuu”
Cewek 3: “Tapi aneh ih kalo tiba-tiba minta maaf, gak usah lah mungkin aja gak denger”
Mau gak mau gue cengar cengir karena ini kejadian yang absurd banget… gue juga merasa kasihan sama mereka yang ngerasa bersalah, well sebenernya wajar-wajar aja sih ngobrol gitu, cuma mungkin gue aja yang masih bingung harus bersikap bagaimana.
APA GUE PERLU BALIK BADAN SAMBIL MENGGOYANG-GOYANGKAN JARI TELUNJUK TERUS NGOMONG “UMMM DON’T WORRY BEIBEEH”, SEANDAINYA GUE SECANTIK ARIANA GRANDE MUNGKIN JATOHNYA MOMEN HEROIK TAPI DENGAN TAMPANG GUE YANG GEMBEL BEGINI GUE TAKUTNYA MEREKA STEP DI TEMPAT.
Pernah juga suatu hari gue duduk di taman sendirian lagi nunggu kunci kosan yang kebawa si Ul (temen sekamar gue) tiba-tiba ada yang berbisik.
“Eh itu bukannya yang nulis notes itu ya? Kasian dia kayaknya emang gak punya temen deh, belajar mulu”
Tanpa bermaksud ngartis gue jadi paham perasaan Whitney Houston saat di wawancara Oprah
Oprah: “Apa cita-cita seorang Whitney yang belum tercapai?”
Whitney: “Pergi ke taman, menggunakan kaos, celana jeans, tanpa make up dan tidak seorang pun mengenali”
Dan cita-cita itu tidak pernah terkabul sampai akhir hayatnya.
MUNGKIN INI SAATNYA GUE NGELAYAT KE MAKAM SI WHITNEY!!!
Semua itu belum ada apa-apanya sampai suatu hari waktu gue lagi nonton seminar bareng temen-temen, Mbak Devita salah seorang mahasiswa penerima beasiswa yang dekat dengan dosen-dosen tiba-tiba manggil gue, “Lin, aku di SMS Kaprodi (Ketua Program Studi), nyari mahasiswa yang namanya Nur A.”
YAK MAMPUS ITU AKUN FACEBOOK GUE!
Temen-temen gue yang disebelah gue justru yang panik.
“LIIIINNN GIMANA LIN??? YA ALLAH SABAR YA LIN!!!”
“TENAAANGGG LIN SEMUA AKAN BAIK-BAIK SAJA” (tapi doski ngomong seakan-akan bentar lagi ada bom meledak di ruang seminar itu)
Gue mencoba menenangkan doski DAN TERLEBIH MENENANGKAN DIRI GUE SENDIRI
“Tenaaaaang, inget-inget lagi wabah kelaparan di Sudan, inget Perang Dunia, inget pembantaian PKI. Ini ga ada apa-apanya”. (padahal jantung gue rasanya kayak dilempar dari Monas terus nyampe bawah kelindes ‘emak-emak yang bawa motor matic rating kanan tapi beloknya kiri’. FIX TEGANG BANGET!!!)
Tapi serius deh, setiap ada masalah yang gue anggap berat, gue seringkali membayangkan peristiwa-peristiwa yang jauuuuh lebih besar, penderitaan-penderitaan yang jauuuuh lebih mengerikan. Walaupun terkesan alay tapi itu ampuh lho. Rasa-rasanya beban kita jadi gak ada apa-apanya, cuma prakteknya memang gak mudah, dan jangan coba-coba ngasih saran ini ke temen lo, gue udah pernah nyoba soalnya.
Temen gue: “Aduuuh Lin, gimana nih, gue disuruh ngulang sidang tugas akhir? Kalo gue gak lulus gimana? Kalo gue gagal? Kalo gue ga dapet kerja? Terus anak istri gue mati kelaperan gimana?? Gimanaaa???”
Gue: “Sob, tenang sob, bayangin ini belum ada apa-apanya dibanding anak-anak pengungsi Rohingya yang mati kelaparan, terombang-ambing di atas laut selama berminggu-minggu, atau lu bayangin ribuan orang yang mati kena genosida waktu jaman Hitler sob… penderitaan kita bener-bener cuma seupil sob dibanding mereka”
Temen gue: “O… oke… makasih lho atas sarannya”
Habis itu dia gak pernah cerita lagi ke gue, dan gue juga ga pernah lagi ngasih komentar sejenis itu. PEDIH.
Sebelum menghadap Kaprodi, gue minta doa ke bapak ibu gue. Dan besoknya emak gue sms
“Lin, mama sama papa sudah diskusi tadi malam, kalau kamu sampai di DO dari ITB ga masalah… Kami tetap bangga sama kamu. Jalan hidup kamu masih panjang, masih akan ada pintu-pintu kesuksesan lain yang terbuka. Tapi kami juga sepakat kamu nikah dulu terus ngasih kita cucu. Good luck. (NB: inget usia kami tak lagi muda)”
Whaaaat??!!! Hape secara otomatis gue banting, dan bahkan masuk ke ruang Kaprodi ini adalah detik-detik penentu masa-masa lajang gue. Pelik.
Sambil menunggu Ibu Kaprodi yang masih ada tamu, gue mencoba googling gambar-gambar kelaparan di Sudan.
“LO PASTI BISA LIN, LO KUAT KAYAK MACAN DI IKLAN BISKUAT, LO TEGAR MACEM LAGUNYA TEH ROSSA” (Tak lupa gue buka bungkus biskuat dari tas gue, berharap menambah kekuatan... kekuatan mental terutama)
“LIHAT MEREKA LEBIH PARAH, ITU YA ALLAH SAMPAI DIKERUBUNGIN LALAT BADANNYA, LIHAT BADAN LO GA ADA LALAT KAN?” (Dan satu lalat terbang di ruangan itu membuat mental gue down kembali)
“INI BELUM ADA APA-APANYA, MINTA MAAF, HAPUS POSTINGAN DI FACEBOOK, KALO PERLU HAPUS AKUN FACEBOOK, ABDIKAN DIRI SAMPAI KERACUNAN GAS KIMIA DI LAB, ITU TUJUAN HIDUP LO YANG BARU”
Dan waktu penentuan itu datang, gue duduk di depan Ibu Kaprodi yang baru terpilih beberapa hari itu. Gue mencoba membuka suara dan sebuah tawa mengagetkan gue.
Ibu Kaprodi: “Hahahahahahaa”
Gue: “Bu saya…”
Ibu Kaprodi: “Ahahahahaa, ya ya saya tahu, ahahahaha”
PADAHAL TADI GUE UDAH SIAP DI SURUH NEGAK SIANIDA.
Setelah sepersekian detik gue melongo dan melotot karena terkejut, si Ibu mungkin menyadari dan segera bersimpati.
Ibu Kaprodi: “ya bagaimana?” (sambil tetap menahan tawa)
Gue: “Bu saya mau minta maaf, karena postingan saya di facebook dan blog mungkin menjadi masalah buat ibu di awal-awal kepemimpinan ibu, maaf saya membawa- bawa nama instansi ini.”
Ibu Kaprodi (ini mulai serius): “Kalau bagi saya pribadi fun-fun saja, cerita kamu menghibur. Hanya saja memang kamu perlu lebih bijak dalam menggunakan sosial media, sosial media itu bisa menyebar tanpa bisa kamu kendalikan, dan semua orang bisa bicara semau mereka karena gak semua orang punya kepala yang sama, pasti ada yang suka dan ada yang tidak. Yang saya mau tekankan adalah jangan pernah lari dari tanggung jawab, kalau kamu setelah ini menjadi tidak nyaman dalam menjalani kuliah saya minta kamu hadapi, sekali lagi jangan lari. Kamu harus tahu betul konsekuensi dari tindak tandukmu dan siap dengan itu semua”
Gue: “Baik bu, apakah saya perlu hapus atau buat pernyataan minta maaf di publik?”
Ibu Kaprodi: “Tidak perlu saya rasa”
Rasa-rasanya gue pengen peluk si ibu sekencang-kencangnya, tapi mengingat isu LGBT yang kian merebak, gue urungkan niat itu. Sambil mengucapkan rasa terimakasih tak bertepi gue pamit undur diri. Sebelum keluar ruangan Ibu berkata:
“Saya lihat tulisan kamu yang lain, lucu, konyol, lebay, dari dulu memang tipe menulis kamu seperti itu, kalau memang itu diri kamu yang sebenarnya, jangan dihilangkan. Saran saya buat buku atau novel mungkin lebih baik”
Saat itu gue cuma bisa bilang “Terima kasih bu” sambil menutup pintu ruang kaprodi dan entah mengapa air mata gue menetes. Seseorang yang mengerti arti tulisan bagi diri gue selalu bikin gue mellow macem marshmallow.
Tapi tetap gue tak lupa sms ortu gue.
“Ma, pa, maaf aku belum bisa kasih cucu dalam waktu dekat” dan mungkin setelah itu mereka yang gantian banting hape.
Setelah peristiwa viralnya notes itu, gue memang ingin menyepi sejenak dari dunia tulis menulis di publik, setidaknya sampai lulus. Dan kehidupan gue menjadi sedikit normal, memang ada benarnya kata-kata Julia Roberts seorang artis besar pada masanya “kepopuleran itu adalah sesuatu yang sangat fana” sama sekali jangan pernah mengejar popularitas karena sifatnya mematikan. Terasa manis namun ternyata kita tenggelam semakin dalam. Dan saat semuanya hilang atau pudar kita baru sadar bahwa kita tidak punya apa-apa.
Gue salut juga sama artis-artis yang punya banyak haters. Gue baca komen miring dari satu dua biji akun aja stresnya setengah mati. Saking kepikirannya komen-komen miring itu gue jadi sering tiba-tiba geleng-geleng kepala sambil bergumam “udah ga bener ini dunia, udah ga bener” terus paling ditanggapi si Ul temen sekamar gue dengan nada sarkasme “Kenapa Sukarno bangkit dari kubur???”
Kehidupan menjadi lebih tenang sampai akhirnya….. Auuuuu (#EfekLolonganSrigala)
Suatu hari teman gue ngechat gue intinya dia dihubungi salah seorang editor dari penerbit ternama yang tertarik untuk membukukan tulisan gue dan akhirnya teman gue itu memberikan nomer gue. Dan ternyata tanpa berlama-lama editor itu segera menghubungi gue. Tanpa ba bi bu dia jelaskan alasan kenapa dia tertarik dengan tulisan-tulisan gue, kemudian gue jelaskan tentang kekhawatiran gue yang mau fokus kuliah dulu, meskipun dalam hati kecil gue rasanya gue mau meledak sampai ke Mars terus balik lagi ke Bumi habis itu pergi lagi ke Mars (terusin aja Lin ini informasi ga mutunya).
SOALNYA GUE ANTUSIAS BANGET... IT’S LIKE A DREAM COME TRUE
Kemudian editor itu melanjutkan, “Kalau bisa segera posting tulisan lagi di medsos, kalau ada like sampai kira-kira sekian kita bisa lanjutkan ke tahap berikutnya. Saya harap bisa segera ya mbak karena ini momennya sedang bagus. Saya yakin dengan mengunci image mbak yang lucu, konyol dan jomblo banyak masyarakat yang suka.”
ASTAGA NAGA BONAR JADI DUA, cita-cita gue untuk hidup normal terenggut…. Dan itu apa-apaan main kunci-kuncian image gue yg konyol dan jomblo? APAKAH ITU ARTINYA GUE AKAN MENJADI PERAWAN TUA YANG DITERTAWAKAN SELAMANYA? YA ALLAAAAAH BANTU HAMBA YA ALLAH.
Akhirnya gue utarakan hal ini ke Ibu gue, orang yang mengajari gue menulis untuk pertama kali, yang mengingatkan gue bahwa dengan tulisan gue bisa menjadi apapun yang gue mau, bahwa suatu hari gue akan menjadi orang besar yang akan berpengaruh lewat tulisan-tulisan gue (walaupun gak pernah terbayang sekalipun kalau harus tulisan ber-genre humor, disaat bacaan gue sejenis Pramoedya, Buya Hamka, NH.Dini, dan para orang-orang hebat pemikir yang berpengaruh... sedangkan tulisan gue T.T #SungkemMintaAmpun). Dan terjadilah percakapan ibu-anak abnormal:
Gue: “Mak, aku ditawarin penerbit buat bikin buku”
Emak gue: “Bagus dong, itu kan cita-cita kamu dari dulu”
Gue: “Tapi gimana dong, genrenya humor, kalo nanti aku banyak haters? Banyak yang ga suka, banyak yang ngehina dianggap tulisan gak bermanfaat”
Emak gue: “Niatin aja untuk kebaikan dan kebermanfaatan, tentang orang yang bakal ga suka dengan tulisanmu... halah klise, Nabi saja yang dijamin masuk surga banyak yang ga suka, apalagi kamu yang kemungkinan dicuci dulu di neraka” GUE SEGERA MENGAMBIL SIKAP LILIN DI ATAS BARA API
Setelah itu gue memang merenungi kata-kata Emak gue yang super tega kalo sama anaknya. Benar bahwa ini adalah kesempatan langka yang harus gue manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gue akui gue takut. Tapi gue harus yakin bahwa ketakutan itu adalah sesuatu yang datang dari dalam diri gue, dan artinya hanya gue sendiri yang bisa mengatasinya. Toh kalaupun gue menemui kegagalan gue akan bangkit lagi, persis seperti bayi yang belajar berjalan. Motivasi itu ada dari dalam diri kita sendiri, dan bersama Tuhan ia akan menguat.
Sebuah pintu baru dalam hidup gue terbuka... Inilah babak baru dalam hidup gue, untuk menjadi lebih besar dan lebih bermanfaat. Bismillahirahmanirahim...
“Key of Success adalah Kunci Kesuksesan “ (Imam Rochsidi)


Soriiiiiii salah masukiiin quotes gue (btw ini lagi model ya quotes-quotes sampah macem gini, pelipur lara bener).... nih gue kasih yang beneran!
“Tak ada yang dapat membuat kita rendah diri tanpa izin dari diri kita sendiri” (Eleanor Roosevelt)