Perjudian Terbesar dalam Hidup

Penulis yang tak menulis

Begitu kira-kira kata-kata yang bergelayut di kepala gue akhir-akhir ini. Betapa banyak tulisan yang gue produksi secara rutin sebelum akhirnya buku perdana gue, Chicken Soup Tumpah, terbit. Tapi setelah buku gue terbit, gue justru belum lagi mem-publish tulisan se-genre tulisan gue sebelumnya (ya gue tetep nulis dong, nulis tesis misalnya, emang lo kata gue tiba-tiba buta hurufĂ  Lin Fokus!)

Ada yang bilang gue jarang nulis lagi karena buku gue terlalu sukses sehingga gue gak punya waktu untuk menulis lagi? BAHAHAHAHA ada baiknya gue gelinding dari Gunung Agung terus nyampe Pantai Kuta dipukulin bule bugil rame-rame.

Salah Besar

Penjualan buku pertama gue sebenarnya tidak sebaik yang diprediksi. Entah diprediksi oleh penerbit, oleh Gramedia atau oleh gue sendiri. Semua menjadi blur dan menjadi masa-masa depresi tersendiri bagi gue. 

Menyedihkan bahwa kisah yang lo tulis dengan segenap hati, yang didalamnya hidup senyum dan tawa para pembaca hanya berakhir menjadi sederet angka di rekening dan pesan tersirat untuk mencari cara meningkatkan penjualan. Sentimentil itu emang menjijikan sih, gue selalu merasa gue adalah part of Revolusi Industri (najis ngaku-ngaku wkwkwk) yang keras tanpa hati, gue selalu pengen jadi ‘Perempuan Pemimpin Bisnis Ratusan Juta Dolar’ yang mengendalikan dunia.

Gue: “Tolong hubungkan saya dengan nomor Trump”

Karyawan: “Baik Nyonya”

Gue: “Halo, Trump! Sia teh belegug, kunaon eta sagala ibukota Israel pindah ka Yerusalem? Ari sia teh sakola teu?”

Trump: “Sorry Madam, I will find the translator and I will call you later”

Habis Trump tau artinya dia langsung terbang dari Amrik ke kontrakan kecil gue di Cisitu buat sujud minta maaf terus ngebatalin pernyataannya kalo ibukota Israel di Yerusalem. 

Nah dialog imajiner sejenis itu adalah sebagian isi otak gue sejak gue bisa berpikir sampai sekarang (sedih kan kalian?) Pengen belagak tangan besi tapi pada akhirnya gue bahkan gak pernah tega nitip cucian dari kostan ke pembantu di rumah tanpa memberi jajan tambahan. Miris kan?

Ada yang bilang gue mau nulis kalo status gue udah berubah. Di buku pertama gue ada kalimat “Sebuah Karya Penulis Belum Berjodoh” nah sebagian berspekulasi bahwa gue pengen buku kedua nanti bertuliskan “Sebuah Karya Penulis Telah Berjodoh”. 

Alah bodo amat! Mending lo urusin tuh pro-kontra Ayat-Ayat Cinta 2! (Lin, sabar Lin… inget tujuan awal nulis ini inget….)
Walaupun sebenarnya alasan yang paling kuat ‘mogok’nya gue menulis adalah:
I try harder to knowing myself. 
The Truly Me…

Penulis Buku Harian, kalau boleh dikatakan itu mungkin spesialisasi gue. Itu akar dari tulisan-tulisan gue. Gue hampir selalu fasih bercerita tentang diri gue, pemikiran, perasaan dan imajinasi gue dibumbui orang-orang terdekat gue, keluarga gue, temen-temen gue, dosen, dan bahkan orang gila depan kost. Sehingga kalau ada yang bermasalah dengan tulisan gue, yakinlah, gue sedang bermasalah dengan diri gue sendiri.

Bermasalah barangkali berkonotasi negatif, sebetulnya tidak senegatif itu (yang pasti gue saat ini bukanlah pengedar narkoba atau gremo pencari WTS WTS buat dikirim ke Negeri Jiran). Saat ini gue cuma sedang berusaha mencari jati diri gue. Mencoba mengenal lebih dalam siapa diri gue.

Sumpah lo di usia segini lo belum mengenal diri lo sendiri? 

Itu barangkali pertanyaan temen-temen semua, tapi sebenernya itu pertanyaan dari diri gue sendiri, buat diri gue sendiri (mabok kan?). Ada beberapa tipe manusia, pertama dia tau apa yang dia tahu, kedua dia tau apa yang dia tidak tahu, ketiga dia tidak tau apa yang dia tahu dan keempat dia tidak tahu apa yang dia tidak tahu. (Dibuka kelas filsafat, kiat sukses, cepat tepat, King Solution menjadi pemikir kelas dunia—> Lin berapa kali harus dikasih tau FOOOKUS AH ELAH KESEL GUE)

Eh kalian udah mulai ngerasa gue mengalami gejala gak sehat gitu gak sih? 

Oke lanjut ya… pada part ini gue terinspirasi oleh keberanian Kartini, salah seorang teman sesama penulis yang dengan berani membuka kisah cinta masa lalunya (ciee) yang berakhir dengan hikmah yang begitu besar, tentang sebuah perjalanan hijrah seorang anak manusia. Semoga Allah memampukan gue untuk menuliskan pengalaman ini juga.

Gue rasa titik pertama gue mulai memutuskan sesuatu yang benar-benar penting dalam hidup gue itu waktu gue duduk di bangku SMA kelas 3. Gue saat itu adalah tipikal remaja pada umumnya, remaja tanggung yang mabuk dunia. Main mulu, ketawa ketiwi, belajar kalo mau ujian aja, gila-gilaan bersama teman-teman lah kalo kata Changcuters. Gue juga ikutan ekskul teater, sering jadi sutradara kabaret dengan sederet bencong-bencong yang tentunya temen-temen cowok gue yang otaknya rada sinting. Hangout, ke sekolah, hangout, tempat les, teater, sesekali ikutan acara rohis biar gak sesat-sesat amat, hangout lagi. Yah you know what kind of person lah…

Namun entah bagaimana awalnya gue juga lupa yang pasti tiba-tiba gue seorang laki-laki menjadi babak penting dalam hidup gue. Namanya Budi (samaran tentunya, dengan suara macam tikus kejepit yang suka ada di Reportase Investigasi). Budi ini temen seangkatan gue, gue lupa deh awalnya, tiba-tiba temen-temen seangkatan suka cie cie in gue sama doi gitu. Tipikal remaja tanggung gak berakal. Wkwkwkwk. Dari cie cie itu gue malah jadi deket beneran sama Budi ini. Well, sekedar gambaran Budi ini adalah tipe yang 180 derajat beda banget sama gue. Anaknya super pendiem, kikuk, misterius dan jenius. Jeniusnya sebenernya bukan tipe tipe anak sains gitu sih… Temen-temennya suka manggil dia Maestro. Karena dia jago banget main gitar, kartu bridge, dan kubik. Dia pernah menang lomba cepet-cepetan nyusun kubik gitu. Kurang dari semenit. Padahal gue tau dia bahkan bisa ngelakuin itu dengan mata tertutup. Sinting! Gue bahkan butuh 3 hari buat bikin satu sisi berwarna sama. 

Singkat kata karena perbedaan itulah gue sama dia temenan deket. Kita sering SMS-an (zaman dulu belum ada WA atau Line kan yaa). Dari dia gue banyak belajar tentang hal-hal baru yang itu jauh banget dari kehidupan sosialita gue. Di usianya yang tergolong muda, dia banyak baca buku buku filsafat dan juga banyak merenungi kehidupan. Gue inget kita pernah bahas tentang arti kehilangan bagi seorang manusia yang sebenarnya bisa menjadi sebuah momentum untuk menghasilkan karya luar biasa (ajigile kan bahasannya… Sebelum bertemu doi bahasan gue sama temen-temen gue paling seputar mensiasati uang jajan yang terbatas dan tetap mendapat cool stuff. LOL receh) Dia mengenalkan gue ke Eric Clapton, seorang musisi blues ternama dunia yang terkenal lewat lagunya Tears in Heaven setelah kematian anak laki-lakinya yang terjatuh dari jendela apartemen lantai 53.

Would you know my name
If I saw you in heaven
Would you feel the same
If I saw you in heaven
I must be strong and carry on
Cause I know, I don’t belong
Tears in heaven
(Eric Clapton- Tears in Heaven)

Sangat berkelas kan… disaat playlist gue:
Kamu dimana?
Dengan siapa?
Semalam berbuat apa?
(Kangen Band in memoriam)

Gue ngerasa perkembangan insting kewanitaan gue emang sedikit terhambat. Jadi gue gak pernah ngerasa apa ya sejenis percikan romantisme gitu? Menurut gue sama aja dengan temen-temen yang lain. Cuma ada banyak hal serius yang bisa gue share sama doi ketimbang sama temen cowok lain yang rada-rada. Waktu semua orang yang manggil gue Jawa, dia manggil gue Lina. Dan entah kenapa itu jadi bahan ejekan temen-temen cowok.

“Ciiiie Linaa… Gute Nacht”, ledek temennya yang tau doi suka belajar bahasa Jerman.

Gue pikir dia juga punya banyak temen cewek, sebanyak gue punya temen cowok. Biasanya temen ceweknya suka ngomporin gue.

“Yaudah siiih, kenapa gak jadian aja kalian? Budi tuh baik banget tau orangnya”, kata ciwi-ciwi.

“Yaudah jadian aja sama lo ah elah rempong”, ujar gue sekenanya.

“Ihh lo tuh gak layak sama Budi, kasian nanti dia dijahatin mulu”

Jahat versi gue adalah kalo gue selipin kokain ke tas sekolah dia yang bikin dia di drop out dari sekolah dan orangtuanya frustasi kemudian bunuh diri. Dan gue gak bakal ngelakuin itu. Tapi gue tahan aja sih daripada lama.

Temen-temen cowok gue juga sama aja gak solutif sama sekali, yaah seenggaknya mereka emang lebih gak suka masuk ke ranah pribadi sih menurut gue.

“Lu jadian bukan sama Budi?”

“Kagak”

“Oh...”

Padahal gue baru mangap mau nanya pendapat dia tentang konsep jadian itu tiba-tiba…

“Eh si Pay kemarin ketauan sia cabut pelajaran Pak Didi. Tolol eta bocah teu kapok kapok! Minjem duit dong Jawir (Jawir = Jawa = gue), gue haus nih habis futsal”, seloroh temen gue, sebut saja Badak.

“Sial”, umpat gue sambil ngelempar koin 500-an.

“Iiih naon sia lu teh, lagi ‘dapet’ bukan?”

“Bodo”

Yah begitulah, cerita receh khas anak remaja. Dia juga tau gue suka nulis (gimana gak tau… kadang gue udah ngerasa kayak badut sulap aja kalo temen-temen nagih tulisan disaat masa-masa stress ujian). Tapi dia suka menguak sisi-sisi yang gak dilihat orang lain misalnya “Kamu sayang banget ya sama Bude kamu?” disaat anak lain “Bude lo kocak anjiiirr!!” Nah sampai akhirnya suatu hari dia ngirimin tulisan dia dan minta tolong gue buat review. Novel. 

Ceritanya berat, penuh pemikiran, khas dia. Terus gue kaget di suatu halaman “Loh jadi si ‘aku’ nya ini cowok? Bukannya cewek? Bukannya dia suka sama cowok?”

JRENG JRENG!!!

Terkejutlah gue.

Akhirnya gue tanyakan ke dia perihal cewek atau cowok ini dan ternyata dia emang ngangkat isu tentang LGBT gitu. Well, to be clear on this, dia bukan homo tapi dia salah satu orang yang gak setuju bahwa LGBT harus dianggap sebuah tindakan tercela atau bahkan dikriminalisasikan. Menurutnya itu terjadi alami saja. Gue inget dia nanya “Emang kalo kamu lahir cacat itu salah kamu? Mereka itu sama kayak orang yang terlahir cacat misal buta atau pincang dari lahir, semua pemberian Tuhan”

JRENG JRENG!!! (2) 

Otak sederhana gue waktu itu cuma mikir “Masa sih? Emang iya bawaan dari lahir? Kalau gitu kenapa sama Allah gak boleh sedangkan setau gue gak ada dosa bagi yang cacat dari lahir? Why?”

Satu masalah itu mengendap kemudian muncul lagi pertanyaan-pertanyaan lain.

“Lin, menurut kamu Allah itu Maha Besar gak?”

“Iya dong” (gini-gini ya tau lah artinya Allahu Akbar kan Allah Maha Besar)

“Trus Allah menurut kamu Allah Maha Menciptakan gak?”

“Hmmm iya. Kenapa sih emangnya?”

“Kalau gitu menurut kamu mungkin gak Allah menciptakan sesuatu yang lebih besar dari dia?”

“Hmmm bisa” (mulai ragu)

“Kalau bisa berarti ke-Maha Besar-annya hilang dong?”

“Hmmm” (maklum anak micin, ampun sodara-sodara)

“Kalau gak bisa berarti gugur dong ke-Maha Pencipta-nya?”

Seperti biasa gue berakhir gali lobang, terus ngegulingin diri gue sendiri di atas kafan terus lompat, terus nutup sendiri itu lubang. Pura-pura mati.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu menghantui gue siang dan malam. Menabrakkan diri gue pada sebuah kenyataan bahwa gue gak tau apa-apa tentang Dia, terus kenapa gue shalat? Kenapa gue pake kerudung? Siapa Dia? Dan lebih pelik lagi, SIAPA GUE? Betapa aneh bukan ketika lo merasa asing dengan diri lo sendiri. Tapi itu yang gue rasain.

Lalu sampailah pada sebuah gong dimana kita berdiskusi tentang kematian. Gue tanya
“Kamu percaya gak ada surga dan neraka gak setelah kita mati?”

“Hmm belum ada yang bisa membuktikan kebenaran keberadaan mereka secara ilmiah sih. Tapi menurutku yang pasti kita hanya akan hancur dan berubah menjadi bentuk energi yang lain. Hukum kekekalan energi” balasnya.

Gluduk.

Itu bunyi isi hati gue ceritanya macem ada halilintar (kok antiklimaks ya?)

Sejak saat itu gue berpikir matang-matang. Cuma ada dua pilihan menjadi ateis atau menelusuri lagi keyakinan gue tentang Allah, tentang Islam. Satu sudah dipilih gue putuskan untuk totalitas di dalamnya. Apapun konsekuensinya. Keputusan yang bukan main-main kan?

Kemudian gue merenung. Kebetulan deket sekolah gue ada Masjid Raya Bogor sering disingkat Mesra (aduileehhh galau lagi kan). Setiap pulang sekolah gue suka menyepi kesana, bengong-bengong, mengumpat dalam hati, bertanya, nangis, ketiduran. Sampai entah bagaimana hidayah itu datang dalam sebuah cara yang tak disangka-sangka.

Waktu itu gue berpikir kalau misalnya betul Allah itu gak ada, surga neraka itu palsu, dan semua hal yang gue yakini selama ini hanyalah dogma sesat tanpa akal sehat dan gue tetep percaya paling-paling gue hanya akan hidup 60 tahun sebagai orang bodoh. Toh setelah gue mati gue cuma bakal jadi humus buat tanaman di atas liang lahat gue. Tapi kalau ternyata semua itu benar, Allah itu benar, surga neraka itu ada, dan gue memilih jalan ateis. Tamatlah riwayat gue selamanya di kerak neraka. Pilihan gue 60 tahun hidup dalam ketololan atau selamanya berada di kerak neraka. Well, sebagai pebisnis MLM handal di sekolah gue dulu, gue putuskan untuk mengambil resiko terkecil. 

Berspekulasi dengan hidup.

“Dasar pejudi tengik!” batin gue dalam hati sambil senyum-senyum, gak tau senyum-senyum kenapa.

Kemudian gue berdoa entah kenapa waktu itu sediiih banget rasanya…

“Ya Allah saksikanlah bahwa aku memilihMu, melebihi apa yang bisa dipahami nalar dan inderaku, melebihi apa yang diinginkan hawa nafsuku. Maka, tunjukkanlah padaku!” gue mengakhiri gertak sambalado gak berfaedah itu sambil nangis dan ketiduran lagi di Mesra ba’da Isya.
Dengan itu pula gue mengakhiri babak kedekatan gue dengan seorang laki-laki yang juga sedang mencari dirinya, mencari Tuhannya.

“Bud, kayaknya aku gak bisa deh lanjut berhubungan lagi”

“Oh oke”

Sunyi senyap, tapi terkandung di dalamnya jutaan kata-kata, ribuan rasa yang mengawali perjalanan gue mengenal Allah dan menemukan kepingan diri gue yang lain.
Trus apa hubungannya sama gue ‘mogok’ nulis tadi?

Well, sejak saat peristiwa ‘judi’ terbesar dalam hidup itu gue selalu merasa kalau mau apa-apa bertanya-tanya

Ini bener gak ya?

Allah suka gak ya?

Allah benci gak ya?

Gue tau Allah gak suka tapi gue suka, kalau gue tinggalin tapi dalam hati gue masih suka, gue munafik gak ya?

Terus aja pertanyaan-pertanyaan silih berganti di kepala gue.

Termasuk saat buku itu terbit. Sisi humanis gue merasa bahwa itu adalah suatu pencapaian yang menggembirakan. Kira-kira beginilah obrolan yang ada dalam diri gue.

“Lin terlepas laku atau enggak, impian lo punya buku sendiri terwujud loh!” kata gue ke dalam diri gue sendiri. Kemudian kumpulan gue saling bersulang di sebuah meja bundar.

Ada gue umur 7 tahun waktu pertama dapet diary, ada gue umur 10 tahun waktu bikin karangan dan dibacain depan kelas, ada gue umur 13 tahun yang suka nulis naskah cerpen dan drama, ada gue 16 tahun yang mulai nulis di jejaring sosial, dan gue-gue lainnya ngumpul sambil ngebahas betapa gilanya diri kita masing-masing.

Kemudian diri gue yang sekarang melihat ke mereka sambil ngomong.

Gue sekarang: “EH KALIAN! TAU GAK SIH KALIAN TUH UMUR BERAPA SEKARANG?! SETENGAH ABAD LEWAT!”

Gue 7 tahun: “emang kenapa?”

Gue 10 tahun: “iya emang kenapa sih?”
Gue sekarang: “Pikirin deh, kita itu muslimah tau mau gimana pun juga. Udah tugas kita buat bertindak selayaknya muslimah sejati”.

Gue 16 tahun: “Oh My God yang kayak gimana tuh? Pemalu dan suka tersipu-sipu? FIX LO BANGET!”

Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak ada yang sampe keselek, ada yang sampe guling-guling, ada yang sampe ngegebuk dirinya pake kayu.

Gue sekarang: “HEH DENGERIN DULU! Allah itu pasti mengenal hambaNya lebih daripada hamba itu sendiri kan?”

Mereka saling mengangguk setuju.

Gue lanjutkan.

“Kalau gitu, bukankah seharusnya kita mulai mengeksplor bagaimana menjadi muslimah seutuhnya? Mulai belajar menjaga diri, mulai lebih tenang menghadapi banyak hal, dan mulai lebih serius lagi mengenalkan Allah pada semesta alam lewat tulisan kita? Gue gak bisa terus menulis hal-hal konyol tanpa ada substansi tentang bagaimana kita mengenal Dia”

“Tapi tapi lo serius?”

“Iya emang lo mampu jadi ukhti-ukhti solehah harapan bangsa?”

“Ya belajar lah kita bareng-bareng”, kata gue yang sekarang.

“Trus emang lo udah siap kehilangan pembaca lo kalo lo jadi lebih serius atau kelihatan lebih kalem?”

“Eh kalian inget gak sih, ada yang pernah bilang gini ke kita lebih baik kehilangan segalanya karena Allah daripada kehilangan Allah karena sesuatu. Coba siapa diantara kalian yang pertama kali denger nasehat itu?”

Kemudian gue usia 18 tahun dengan celana jins dan kaos kepanitiaan plus kerudung alakadarnya dengan rambut keluar-keluar berantakan ngacung.

“Kata pementor kita dulu”, sahut dia.

“Nah tuh kan… gue juga gak tau kedepannya model lu lu yang kayak gimana lagi yang gue temuin, tapi sekarang gue tahu bahwa ada banyak hal yang harus gue ubah. Minimal menjaga diri dengan memanjangkan jilbab, menjaga tutur kata dan menghindari pertemanan berlebihan dengan lawan jenis”.

“Yaaaaahhhh... ”, seru mereka serempak.
“HEEEEEH!!! Anak-anak rusyyaaaak!!!”

Yah begitulah anak-anak itu suka susah diatur. Gue paham sih mereka cuma takut terbunuh dan hilang. Padahal bagaimanapun juga mereka tidak akan hilang, mereka paling hanya tertidur dan menjadi pembelajaran bagi gue-gue yang lain. Mereka, gue-gue yang penuh salah itu, tetaplah gue yang melahirkan hikmah-hikmah dan menjadikan gue lebih baik dari hari kemarin.

“Jadi gimana cara lo buat ngomong ini semua?”

“Iya gimana, gimana?” 

Dalam hati gue “Berisik gila gue macem miara minion”

“BENTAR GUE MIKIR DULU AH ELAH!”

“Eureka! (kata-kata Archimedes waktu nemu teori gaya ke atas. Gue gak ngerti gimana caranya AHA! bisa jadi sepanjang EUREKA!) Gimana kalau gue post aja cerita ini?” ujar gue meminta persetujuan.

“Iya… iya… bener juga… sana buruan!!” seru mereka riuh.

Selagi gue mau klik kata PUBLISH tiba-tiba seorang gue teriak

“WAAIIIITTTTT!!!!”

“Apa lagiii ah??!” kata gue yang sekarang.

“Jangan lupa niat karena Allah. Jangan lupa niat karena Allah. Jangan lupa niat karena Allah. Supaya jadi berkah bukan musibah, supaya diridhoi setiap tindak tandukmu sebagai wujud kebesaran Allah SWT”, katanya.

“Siapa kamu?” tanya gue.

“Lina yang semalem nangis di kajian Masjid DT”, katanya.

Gue mengacungkan jempol ke arah dia. Kemudian menatap langit seakan-akan mengharapkan restu penguasa langit dan bumi.


Bismillahirahmanirahim!

Bogor, 5 Januari 2018

Komentar

  1. Semoga segera bisa menjinakkan para minion piaraan lo ya jaw. Semangat kakaaa... :D

    BalasHapus

Posting Komentar