BUDAYA MENYAPA DI TEKNIK LINGKUNGAN


Beberapa hari yang lalu saya diminta oleh Kepala Departemen  PSDM, Mbak Mela untuk mengisi saat briefing Presentasi Kelayakan Mahasiswa Baru 2011. Saya juga kurang tahu harus mengisi apa, akhirnya saya ditemani teman saya Ulfa hanya sekedar sharing sharing dengan adik tingkat. Ketika ditanyakan apa yang menjadi keluhan mereka selama ini, betapa terkejutnya saya melihat kenyataan bahwa hampir sebagian besar mengeluhkan perilaku kakak tingkat yang tampak acuh tak acuh saat disapa. Saya hanya bisa tersenyum sendiri, mem-flash back memori saya setahun silam saat saya berada di posisi mereka. Saat saya menyapa namun dibalas dengan senyum seadanya, 0,5 cm bibir ditarik ke kiri. Itu masih lebih baik dibanding dibalas dengan membuang muka. Setelah dilantik pun seringkali saya mencoba menyapa kakak tingkat namun diacuhkan begitu saja. Entah tidak mendengar atau memang tak terlalu berniat membalas.
Sejujurnya saya sama sekali tidak keberatan dengan aturan mahasiswa baru (maba) menyapa semua kakak tingkat yang dilewati, justru saya dukung penuh adat untuk berlaku sopan terhadap yang lebih tua. Namun ketika aturan sopan digalakan hanya satu arah menurut saya hal tersebut kurang arif. Benarlah kira-kira luapan hati seorang maba.
“Mbak, apakah menjadi dihormati berarti harus ditakuti?”
“Apakah tidak bisa membalas sapaan kami dengan sedikit menganggukan kepala atau membalas ‘Iya’ ? Kami tidak mengharap respon berlebihan seperti melambaikan tangan ”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik saya. Dulu ketika menjadi mereka pun saya merasakan hal yang sama, dan saya tidak suka diperlakukan seperti itu, maka ketika saya menjadi kakak tingkat saya ingin menjadi kakak tingkat yang mencoba bersikap adil jika tidak bisa dikatakan baik atau hebat.
Terlebih saya sebagai seorang muslim diajarkan untuk menyambung silaturahmi. Bukankah seharusnya kita berlomba-lomba menjalin silaturahmi? Apakah harus selalu dari yang muda ke yang tua? Saya rasa tidak. Mengapa harus enggan menyapa maba duluan? Mengapa harus malu menepuk pundaknya terlebih dahulu saat bertemu. Apakah takut tampak tak wibawa? Kewibawaan bukan diukur dari siapa menyapa siapa duluan, Nabi Muhammad SAW bahkan selalu menjabat tangan sahabatnya terlebih dahulu dan melepaskannya belakangan, bayangkan padahal beliau adalah seorang Rasul. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya beda tahun masuk kuliah saja?
Tulisan ini saya buat bukan untuk menyalahkan pihak manapun,namun lebih kepada koreksi untuk kita bersama. Tentu tidak semua kakak tingkat seperti yang saya jabarkan diatas, ada banyak pula kakak tingkat yang sangat peduli terhadap adik-adiknya, yang begitu ramah dan bersahabat.  Yang bersedia membagikan ilmunya, pengalamannya, bertukar pikiran bahkan  berbincang-bincang tak bermutu yang justru mendekatkan antar personil. Semoga budaya menyapa di teknik lingkungan semakin membaik. Sekalipun tampak sepele namun menurut saya hal ini adalah indikator cerminan hubungan antar angkatan dan semoga kedepannya kita sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan bisa lebih bersatu membangun Teknik Lingkungan tercinta.
TEKNIK LINGKUNGAN!! JAYA!!

Komentar

  1. kok kayak di smakbo ya jaw?
    gue alhamdulillah ga ada gitu2an di ipb. alhamdulillah kaka2nya ngayomin banget, malah mereka suka nyapa dluan. :D

    ayo, ayo jaw, budayakan menyapa dluan, dihormati bukan berarti ditakuti kan. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer